Antusiasme politik mulai terlihat diAceh semenjak tahun 2015, dimana setiap partai politik yang akan mengusung
pasangan calon Gubernurnya terus bermanuver melalui organisasi sayap partai
yang mereka miliki, dalam khasanah politik demokrasi pemilihan umum merupakan
ajang pesta rakyak untuk memilih pemimpin mereka secara lansung, model
pemilihan secara langsung seringkali di sebut dengan legitimasi politik atau
penyerahan kekuasaan dari rekyat untuk rakyat, proses inilaah yang menjadi
salah satu ciri khas demokrasi yang dijalankan oleh suatu Negara, namun dalam
hal seperti ini tentunya tidak terlepas dari kekurangan dan kecurang yang
terjadi dilapangan sehingga sering sekali proses demokrasi dianggaap sebagai
sistem yang tidak ideal dalam ranah legitimasi rakyat. Problematika terus
terjadi dilapangan, proses perebutran kekuasaan sekan menjadi nilai yang paling
penting bagi para calon yang akan maju dalam PILGUB di daearah tertentu, tidak
terkecuali di Provinsi Aceh hal serupa juga menjadi acuan bagi para calon yang
di usung, program kerja buka lagi menjadi patokan bagi para calon tentapi calon
harus melakukan maneuver politik sedemikian rupa agar mampu memikat hati rakyat
sebagai proses penyerahan legitimasi politik. Dalam ranah ini penulis tidak
akan membicarakan tentang kekurangan atau kelebihan sistem demoktrasi, namun
penulis lebih melihat bagaimana pendidikan politik masyarakat terus berkembang
dan menjadi pergeseran pemikiran politik khususnya masyarakat Aceh yang
bernaung dalam Negara kesatuan Republik Indonesia. Pandangan ini sebagai
gambara yang penulis kaji dari pemilihan kepala Daerah Aceh tahun 2017-2022.
Pemilihan kepala Daerah Aceh yang
ketiga pasca perdamaian Aceh terselengarakan telah membat penulis melihat
bahwasanya ada pergeseran politik dalam kehidupan social masyarakat Aceh pada
umumnya, namun penulih belum mengetahui secara rinci sebab akibat pergeseran
pemikiran politik masyarakat Aceh pad apemilukada tahu 2017 ini. Namun penulis
percaya dengan obsevasi awal tentang bagaimana proses opini public yang di
bentuk sebagai pandangan politik para calon tidak mampu lagi membuat masyarakat
percaya terhadap calon tertentu. Maneuver politik tentang perjuangan rakyat
Aceh melalui GAM dan isu agama belum mampu mengubah pola fikir masyarakat Aceh
kali dalam menentukan calonnya di tempat pemungutan suara yang telah disediakan
oleh penyelengara pemilihan Aceh, bahkan ada pandangan baru yang muncul dalam
setiap pergerakan politik masyarakat kali ini, seperti kita ketahui jika kita
mengulang sejarah di pemilu tahun 2012 tentunya akan banyak sekali
coretan-coretan pelangaran pemilukada salah satunya tentang kekrasan dan
intimidasi politik terhadap masyarakat Aceh yang akhirnya pemilu harus di
menangkan secara terpaksan dan tidak bermartabat, namun dalam pemilukada kali
ini masyarakat Aceh telah menunjukan sikap politik yang luar biasa sehingga
proses intimidasi dan teror kurang efektif, hal ini menjadi pandangan penting
oleh para pengamat politik yang sayogianya menjadi ilmu baru dalam perubahan
budaya berpolitik masyarakat. Proses pemilu yang cukup luar biasa menjadi acuan
tersendiri bagi penulis tentang social politik Aceh yang telah berkembang
sedemikian ripa dalam tahap yang singkat ini.
Penulis melihat bahwa
perpecahan dalam tubuh patai Aceh telah
membuat masyarakat Aceh melihat bahwa paratai tersebuat bukan lagi sebagai
repersentasi dari perjuangan yang sebenarnya, hal ini tentunya akan banyak di
bantah oleh para tokoh partai tersebut namun percaya tidak percaya tentang
kasus ini adalah fakta dan realitas di lapangan, perpecahan dalam tubuh pertain
Aceh pada dasarnya merupakan sesuatu yang paling penting yang harus dilihat,
pertama sekali dalam hal paslon yang mengusungkan diri pada pilgub ini dari
enaman paslon empat diantaranya adalah mantan petinggi Gerakan Aceh Merdeka
seperti Zakaria Saman, Dr. Zaini Abdullah Muzakir Manaf dan Irwandi Yusuf
merupakan tokoh sentral dalam perjuangan GAM dimasa lampau, walaupun ada
perbedaan dalam karekter perjuangan namun mereka adalah tokoh yang harus kita
akui sebagai pejuang sejati dalam organisasi Gerakan Aceh Merdeka dan dua lagi
paslon sebagai yang menguji kekuatan politik Aceh yang selama ini masih
berpengaruh dengan khasanah perjuangan. Dalam pemilihan kali ini tokoh yang
paling sentral di bicarakan adalah tokoh yang di ajukan oleh Partai Aceh,
GERINDRA dan PKS, calon ini bisa kita katakana
calon petahana yang pecah dari pasangan sebelumnya namun bukan ini yang menjadi
sentral pandangan penulis tetapi lebih kemanuver masyarakat Aceh yang cukup
luar biasa.
Penulis melihat pada saat Kampanye
merupakan hal yang menjadi inti dari manuver politik masyarakat aceh secara
diam-diam, bisa kita katakana saat kampanye berlangsun paslon Muzakir Manaf dan
TA. Khalid bisa di katakana sudam menang, proses ini sangat terasa dari bentuk
dukungan saat kampanye berlangsung, penulis melihat bagaimana kampanye Akbar
yang di buat oleh tim pemenangan selalu sesaki oleh masa simpatisan, ratusan
sampai ribuan masa selalu ada di saat kampanye diselengarakan namun hal ini
tidak membuat paslon ini menang dalam pemilu 2017-2022, bahkan pasangan ini
harus menelan kekalahan 5% dari pasangan irwandi-nova. Inilah yang disebut oleh
penulis sebagai perubahan politik masyarakat Aceh diera sekarang, dalam
pandangan penulis tentang beberapa kejadian ini telah membuat politik baru
dalam lingkum social politik masyarakat Aceh, hal ini telah menunjukan
kedewasaan berpolitik masyarakat Aceh bahwa pilihan di tentukan di dalam tempat
pemilihan bukan didalam lapangan kampanye dan menjadi rujukan penulis tentang pergeseran
politik masyarakat Aceh pada Pemilihan Kepala daerah Aceh kali ini adalah
bagaimana cara masyarakat Aceh meredam teror atau konflik pemilu dengan selalu datang
saat kampanye petahana, bahkan politik uang bukan menjadi patokan para paslon
karena masyarakat akan menerima tetapi belum tentu memilih mereka, perubhan
inilah yang penulis sebut sebagai perubahan politik social masyarakat Aceh yang
luar biasa. Hal ini harus kita akui bersama bahwa masyarakat Aceh telah cukup
dewasa dalam berpolitik.
0 Komentar untuk "PERGESERAN PEMIKIRAN POLITIK MASYARAKAT ACEH DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAH TAHUN 2017-2022"