Teori Neoliberalism

Teori Neoliberalism

           Disusun oleh : Sayed aznan

            Neoliberalisme, liberalisme sendiri adalah sebuah teori dan ideologi politik yang didasari oleh pemahaman bahwa kebebasan individu dan persamaan hak adalah yang paling penting, sedangkan neoliberalisme sendiri adalah konsep liberal yang dipakai di bidang ekonomi. Neoliberalisme sebenarnya merupakan perkembangan dari liberalisme klasik yang dipengaruhi oleh teori perekonomian neoklasik. Karena itu, neoliberalisme berusaha untuk memisahkan pemerintah dengan individu, agar individu dapat bebas melakukan apa yang mereka inginkan dalam bidang ekonomi, tanpa ada hambatan dan batasan-batasan. Sehingga setiap individu dapat berkompetisi tanpa ada gangguan dari pemerintah. Neoliberalisme juga mengutamakan sistem Kapitalis Perdagangan Bebas, Ekspansi Pasar, Privatisasi, Deregulasi, dan pengurangan peran negara dalam layanan sosial, seperti pendidikan dan kesehatan. Neoliberalisme sendiri dikembangkan tahun 1980 oleh IMF, Bank Dunia, dan Pemerintah AS (Washington Consensus). Bertujuan untuk menjadikan negara berkembang sebagai sapi perahan AS dan sekutunya.

Ada beberapa hal tentang bahaya neoliberal di Indonesia dan fakta-faktanya. Pertama, neoliberalisme di Indonesia adalah kelanjutan dari liberalisme jaman penjajahan. Kedua, Indonesia menolak liberalisme atau neoliberalisme dengan doktrin Demokrasi Ekonomi yang ada di Pasal 33 UUD 1945. Ketiga, neoliberalisme mengutamakan kepentingan pemodal atau kapitalisme. Keempat, telah terjadi penjajahan kurikulum atau hegemoni akademis terhadap fakultas-fakultas ekonomi di seluruh universitas di Indonesia, karena pengajaran ilmu ekonominya yang mengemban sepenuhnya paham Liberalisme atau Neoliberalisme. Kelima, wujud Neoliberalisme adalah pelaksanaan kebijakannya Washington Consensus. Meskipun Indonesia tidak terikat oleh Washington Consensus, tetapi kita melaksanakannya dengan giat. Keenam, dalam setiap kemajuan, rakyat harus secara emansipatif terbawa serta untuk ikut maju. Pembangunan bukan menggusur orang miskin, tapi menggusur kemiskinan. Rakyat adalah semua orang Indonesia, yang tinggal dan lahir di Indonesia. Demokrasi Indonesia berdasar paham kebersamaan dan asas kekeluargaan, bukan berdasar asas perorangan. Oleh karena itu di Pasal 27 ayat 2, Pasal 33, dan Pasal 34 UUD 1945, dikatakan bahwa yang kita kejar bukan sekadar “kesejahteraan” bagi rakyat, tetapi adalah “kesejahteraan sosial”, yaitu kesejahteraan bersama bagi rakyat.Ketujuh, kita tidak boleh terjajah, kita harus menjadi Tuan di Negeri Sendiri, jangan jadi sapi perah dari sistem globalisasi.

 Lembaga Utama yang menjalankan Neoliberalisme adalah IMF, World Bank, dan WTO. Di bawahnya ada lembaga lain seperti ADB. Dengan belenggu hutang, seperti contohnya hutang Indonesia yang meningkat dari Rp 1.200 trilyun tahun 2004 dan bengkak jadi Rp 1.600 trilyun di 2009 lembaga tersebut memaksakan program Neoliberalisme ke seluruh dunia. Pemerintah AS atau USAID bertindak sebagai Project Manager yang kerap campur tangan terhadap pembuatan UU di berbagai negara untuk memungkinkan neoliberalisme berjalan, misalnya di negeri kita UU Migas. Jadi, kesimpulannya adalah bahwa kita harus menanggapi doktrin-doktrin neoliberalisme dengan bijak, kita dapat mengambil beberapa point yang baik dan menguntungkan dari neoliberal dalam rangka persamaan yang rata, tapi dalam hal kapitalisme dan hal-hal buruk lainnya, kita harus dapat dan berani menolaknya. Liberalisme dan Neoliberalisme   Leave a commentLiberalisme merupakan salah satu perspektif dalam studi Hubungan Internasional yang yang juga tak kalah pentingnya dengan Realisme. Perspektif ini sangat berlawanan dan menentang asumsi dasar dari kaum realis bahwa “manusia merupakan makhluk yang jahat”. Sedangkan Neo-liberalisme adalah perpanjangan dan revisi dari perspektif Liberalisme itu sendiri. Dalam tulisan ini saya kan mencoba membahas dan menjawab beberapa pertanyaan mendasar mengenai Liberalisme dan Neo-liberalisme, yaitu apa asumsi dasar mereka, sistem internasional dan agenda seperti apa yang ingin mereka bangun, actor yang berpengaruh dalam hubungan internasional, dan perdamaian serta keamanan internasional menurut pandangan kaum liberalis dan neo-liberalis
·         Liberalisme
Perspektif liberalisme muncul sebagai dampak dari Perang Dunia I. Masyarakat  dunia saat itu menyadari kebutuhan untuk menyusun sistem politik yang dianggap bisa membuat seluruh dunia merasa tenang tanpa perang. Dan sampailah mereka pada pemikiran bahwa upaya perdamaian dunia dapat dicapai dengan membentuk sebuah collective power yang kemudian terwujud dengan terbentuknya Liga Bangsa-Bangsa. Dimana Liga Bangsa-Bangsa berperan aktif dalam mengatur negara agar tidak bertindak atau berperilaku yang berpotensi bisa menimbulkan perang Menurut Jill Steans (2009: 111), ada beberapa asumsi dasar mengenai liberalisme, diantaranya adalah:
1.      Kaum liberal percaya bahwa seluruh manusia adalah makhluk rasional
2.      Kaum liberal menulai kebebasan individu di atas segalanya
3.      Liberalisme berpandangan positif tentang karakteristik manusia
4.      Liberalisme yakin terhadap kemajuan
5.      Dengan berbagai cara, liberalisme menentang pembagian antara wilayah domestik dan internasional.
Karena manusia merupakan makhluk yang rasional maka prinsi-prinsip rasional dapat diterapkan pula pada negara dan hubungan internasional. Ketika manusia memakai akal pikirannya, mereka dapat mencapai kerjasama yang saling menguntungkan dan (menurut Robert J & G. Sorensen 2009: 141-143) dalam jangka panjang kerjasama yang berdasarkan kepentingan timbal balik akan berhasil dan membawa keuntungan dan kemajuan. Kemajuan bagi kaum liberal selalu merupakan kemajuan bagi individu dan kehidupan yang lebih baik bagi paling tidak  mayoritas individu. Yang ingin saya pertanyakan disini adalh kemajuan untuk siapa? Apakah hanya untuk sebagian negara yang menganut palham liberal atau seluruh dunia. Liberalisme juga berpandangan bahwa negara tidak lagi menjadi satu-satunya actor yang berperan penting dalam hubungan internasional (Jill Steans & Lloyd Pettiford 2009 :96). Ada banyak actor diluar negara yang dapat mempengaruhi hubungan internasional seperti terroris, TNC, MNCs, NGOs serta pressure groups. Adanya banyak actor tersebut merupakan akibat dari adanya modernisasi dan globalisasi
·         Neo-liberalisme
Neo-liberalisme muncul karena beberapa kritikan terhadap liberalisme itu sendiri serta merupakan perbaikan dan spesialisasi dari liberalisme. Perubahan dalam liberalis menjadi neo-liberalis terletak pada penggunaan teori-teori dan pemakaian metode-metode baru yang ilmiah yang sebelumnya tidak digunakan dalam teori liberalis klasik. Dalam teori neo-liberalis muncul cabang aliran-aliran liberal yakni, liberalisme sosiologis, interdependensi, institusional, dan republikan. Walaupun keempatnya memiliki konsep yang berbeda tentang liberalisme baru ini, namun aliran yang berbeda ini saling mendukung dalam memberikan suatu argumen menyeluruh yang konsisten untuk Hubungan Internasional yang lebih damai dan kooperatif. Berbeda dengan liberalisme di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, neoliberalisme membangun eksistensinya melalui asumsi bahwa manusia sebagai makhluk ekonomi (homo oeconomicus) dan memandang melalui kacamata pendekatan ekonomi, artinya semua tingkah laku manusia sangat dipengaruhi oleh ekonomi. begitu pula negara, jika keadaan ekonomi sebuah negara dikatakan tercukupi, maka kemungkinan negara tersebut untuk melakukan perang dapat diminimalisasi. Neo-liberalisme juga membangun asumsi bahwa negara perlu mengembangkan strategi strategi dan forum-forum bagi kerjasama meliputi seluruh rangkaian isu dan wilayah-wilayah baru (Jill Steans & Lloyd Pettiford 2009 :130).
 pengandaian manusia sebagai homo oeconomicus direntang luas untuk diterapkan pada semua dimensi hidup manusia. Pada gilirannya, perspektif oeconomicus itu direntang untuk menjadi prinsip pengorganisasian seluruh masyarakat. Inilah aspek yang mungkin paling tegas membedakan neoliberal dari liberal klasik. dalam visi neoliberal tiap orang atau perusahaan bertanggung jawab atas diri sendiri untuk meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri. Jadi menurut mereka cara untuk membangun perdamaian dunia adalah dari segi ekonomi. Serta mereka ingin adanya interdependensi negara-satu dengan negara lainnya atau negara dengan aktor seperti perusahaan internasional atau institusi-institusi internasional dalam hubungan internasional. Kaum neoliberalisme sangat percaya bahwa peran pemerintah harus dibatasi, dan membiarkan pasar berjalan apa adanya. Selain itu dalam Jill Steans & Lloyd Pettiford (2009:141) kaum neo-liberal memandang institusi  sebagai pemeran utama dalam menengahi dan memecahkan konflik.




Daftar pustaka

 Jackson, R.& Sorensen, Georg. 2009. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Steans, Jill & Pettiford, Lloyd.2009. Hubungan Internasional perspektif dan Tema. Yogjakarta: Pustaka Pelajar
Kompasiana (26 Juli 2009) [30 Maret 2010].<http:// umum.kompasiana.com2009/07/26/neolib-esensi-dan-visi>

Terkait

Posted September 27, 2010 by moze in all about International Relations Theory


KABARI KE TEMANMU VIA : Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
0 Komentar untuk "Teori Neoliberalism"

Popular Posts

Back To Top