Aceh
merupakan sebuah provinsi yang berada
dalam kesatuan Negara republik Indonesia, semenjak berdirinya Negara Aceh telah
mengploklamirkan dirinya sebagai bagahagian dari NKRI, perjalan panjang yang
telah dilalui Aceh dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan merupakan
sebuah kenyataan yang harus di akui oleh dunia, bagai mana tidak Aceh dulunya
sebuah kerajaan yang besar dan di perhitungkan di Asia tenggara dan dunia. Perjalanan
Aceh dari kerajaan sampai kemasa perjuangan begitu gemilang dan hampir bisa di katakana
aceh merupakan harapan terakhir Indonesia untuk bebas dari penjajahan belanda
pada tahun 1947. Dalam beberapa buku Aceh dipampang jelas bahwa wilayah
sumatera dulunya memiliki sebuah power politik yang cukup besar dan sulit untuk
di taklukan, power politik inilah yang di sebebut dengan kerajaan Aceh
Darussalam.
Secara
kultural Aceh merupakan sebuah wilayah yang di huni beragam macam suku
dinusantara dari suku Arab,melayu, cina, gayo, klut, jame, dan masih banyak
suku lainnya yang mendiami wilayah pesisir dan tengah aceh sampai saat ini. Hal
ini dapat di tinjau dari keragaman bahasa yang di miliki di aceh dan juga
keragamanan budaya yang cukup elok jika di telusuri secara mendalam. Keberagaman
suku bukan membuat Aceh mudur di masa kerajaan dulu tetapi malah membuat Aceh
begitu Berjaya dan kuat sebagai kerajaan islam sumatera, bagaimana tidak Aceh merupakan kerajaan
satu-satunya di nusantara yang mampu mengawal jalur perdangangan di masa kejayaan
kerajaan Aceh Darussalam. Kemampuan penakluklan dan pengamanan inilah kemudia
diakui oleh dunia bahwa Aceh pada masa kerajaan mempunyai sebuah kekuatan yang
sulit diperhitungkan dan ditaklukan oleh beberapa Negara penjajah.
Kejayaan
kerajaan Aceh pada masa lampau telah membuktikan bahwa kultur berbudaya dan
berpolitik sudah dikenal dan dijalankan oleh masyarakat aceh sebagai sesuatu
yang hidup di dalam tatanan sosial masyarakat aceh. Namun seiring waktu
berjalan kerajaan Aceh mulai mundur dan di terpa beragam masala, baik masalah
tekanan dari pihak asing atau tekanan dalam kerajaan sendiri, masalah pertama
dalam kerajaan aceh merupakan masalah kepemimpinan, di uraikan dalam beberapa
buku sejarah Aceh, rajah aceh yaitu Tuanku Sulatan iskandar Muda hanya memiliki
seorang Anak laki-laki yang menjadi harapan kerajaan di masa depan namun anak
raja tersebut harus di pancung ( hukum mati) karena telah melakukan kesalahan
yang memalukan kerajaan dan sesuatu yang sangat dilarang dalam agama. Dalam beberapa
sumber menjelaskan anak sltan iskandar muda yang bernama Pupok Merah melakukan
perzinaan dengan salah satu istri panglima di kerajaan aceh Darussalam, dalam
tatanan kerajaan Aceh menganut hukum islam walaupun tidak ada peningalan
tulisan tentang keabsahan hukum agama yang di tulis dalam tatanan kerajaan
namun masyarakat Aceh sudah dari dulu telah telah menaati agama sebagi unsur
yang paling penting dalam kehidupan mereka maka tidak aneh rasanya ketika ada
salah satu keturunan kerajaan yang melakukan kesalahan apa lagi kesalahan dalam
bentuk perzinahan maka akan di pancung. Setelah pelaksaan hukum pancung
tersebut maka kerajaan aceh terus melemah di karenakan tidak ada lagi pemimpin
dari leki dari keturunan kerajaan aceh sendiri, pada masa itu aceh dipimpin
oleh beberapa anak-anak perempuan dari keturunan iskandar muda, di antaranya
Ratu Safia Tuddin, Nakia Tuddin dan lainnya. Dari sinilah Kerajaan aceh terus
melemah dan pernah di perangi oleh pemerintah hindia belanda pada masa
penjajahan.
Dalam
perang melawan penjajahan, aceh merupakan wilayah satu-satunya tidak pernah
bisa ditaklukan oleh belanda pada masa dulu, bahkan belanda harus mengeluarkan
dana yang cukup besar untuk menaklukan aceh secara menyeluruh sehingga politik
propaganda terus di sodorkan oleh pemerintah belanda untuk menghancurkan aceh. dalam
buku senok Orange atau yang lebih di kenal di Aceh Sebagai tengku Puteh
merupakan sebuah alat yang di buat oleh belanda untuk mengetahui sifat dan
kebiasaan masyarakat aceh, hal ini untuk melihat kemampuan masyarakat aceh dan
sesuatu proses propa ganda politik yang pertama kali di pakai oleh kaum
penjajah di asia tenggara. Dari sinilah belanda tahu kekurangan dan kelebihan
pejuang aceh sehingga belanda dapat menaklukan aceh dan menguasai jalur
perdangangan selat malaka.perperanga tidak pernah berhenti di aceh dari mas
penjajahan sampai masa aceh bersatu dengan republik Indonesia, perang terus
berpecahan sehingga aceh di kelah sebagai salah satu wilayah yang paling banyak
mengalami perang dari masa penjajahan sampai masa aceh dalam bingkai kesatuan Indonesia.
Secara keseluruhan semua perang berefek cukup besar kepada masyarakat salah
satunya kemuduran pendidikan dan pembangunan, kemuduran yang paling besar yang
sampai saat ini adalah kemunduran pendidikan sehingga berefek pada proses
perpolitikan saat ini.
0 Komentar untuk "PERANG ACEH DAN KEMUNDURAN PEMIKIRAN POLITIK RAKYAT ACEH"