INDONESIA DALAM PANDANGAN TEORI PEMBANGUNAN
Dalam pembangunan
suatu bangsa kiranya perlu memilki landasan-landasan pokok sehingga suatu
pembangunan terarah dan berkelanjutan. Proses pembangunan Negara tentu sesuatu
hal yang cukup sulit dikarenakan proses pembanguna selalu terhambat akibat
ketidak sesuaian keinginan antara masyarakat dan Negara. Perbedaan pendapat
selalu akan muncul akibat keinginan setiap pembangun yang tidak sejalan
dengan wilayah, hal ini terjadi di semua
Negara yang ada didunia ini sehingga Negara terkadang tidak memiliki patokan dalam pembangunan.
hal ini akan menghambat pertumbuhan
ekonomi dan keterimngalan infrastruktur
di berbagai wilayah.. penghambatan pembangunan bukan saja dari berbeda
persespsi antara pemerintah dan masyarakat namun hal yang lain bisa terjadi di
karenakan jakauan wilayah yang cukup luas dan minimnya pengetahuan masyarakat
akibat ketertingalan pembangunan dasar yaitu pendidikan. Dalam konsep
pembangunan Negara memiliki beberapa pandangan agar mecapai setiap
tujuan-tujuan yang di ingginkan atau seperti yang di cita-citakan namun hal ini
bisa di singkirkan jika Negara memiliki tujuan yang tetap tentang konsep
pembangunan Negara. Jika kita kaji Negara - Negara yang masih berkembang
seperti Indonesia maka kita akan melihat arah pembangunan yang tidak menentu,
fenomena ini terjadi akibat pemerintah tidak memiliki pondasi yang kuat dalam
membangun Negara.
Merujuk pada
pembanunan Indonesia tentunya kita
melihat dari beberapa teori pembangunan Negara. Indonesia merupakan Negara yang
terbentuk pada tahun 1945 setelah berhentinya perang dunia ketiga, dalam
pembentukan Negara Indonesia sendiri telah banyak melalui fase-fase yang sulit,
gejolak politik awalkemerdekaan, pemerataan pembangunan, kerisis ekonomi hingga
reformasi pemerintahan, dalam kurun waktu 70 tahun Indonesia sudah menjadi Negara
yang begitu di kenal di dunia namun
dalam kenyataannya pembangunan Indonesia masih dalam fase parah, kemiskinan,
pendidikan, kesehatan, pembangunan infrastruktur umum dan
ketertinggalan-ketertinggalan lainnya mesih menghatui setiap masyarakat hingga
saat ini.
Kemerosotan ekonomi
yang di alami Negara sampai sekarang perlu kita pertanyakan secara kajian teori
sehingga pemikiran tentang pembangunan Negara bisa di pahami dan di artikan
secara keilmuaan oleh masyarakat, kajian ini tentunya harus merujuk pada
ekonomi politik yang sedang di hadapi oleh pemerintahan sekarang sedikit
gambara sebagai bangdingan di era pemerintahan sebelunnya. Pasca terpilihnya
Jokowi Dodo sebagai presiden atau kepala pemerintahan tertinggi di Indonesia tentunya
fase pambangunan yang banyak telah di
gagas oleh presiden sebelunnya telah berhenti, akan tetapi yang kita
maksud dengan berhenti yaitu banyak program yang telah di buat namun belum di
jalankan maka program tersebut di ubah
dengan program yang baru, namun program yang telah berjalan tetapn akan di
lanjutkan jika di anggaap perlu. Hal ini tentunya telah membuat banyak
kerugiaan bagi pembangunan Negara akibat banyak program pemerintah sebulunya
tidak di lanjutkan akibat pengeseran ini telah membuat roda perekonomian Negara
tersendat-sendat dan pembangunan negeri mulai terubah. jika di lihat dari teori
pembangunan Negara ada tiga fase pembangunan Negara yaitu:
teori modernisasi, tahap dependensi,
teori sistem dunia. Pada tahap pertama, muncul teori modernisasi. Teori ini
muncul di Amerika Serikat yang mengaplikasikannya dalam program Marshal Plan.
Teori modern dibagi menjadi teori modern klasik dan teori modern baru. Teori
modern klasik memberikan pembenaran mengenai hubungan yang bertolak belakang
antara masyarakat tradisional dan modern. Teori ini menyoroti bahwa negara
dunia ketiga merupakan negara terbelakang dengan masyarakat tradisionalnya.
Sementara negara-negara Barat dilihat sebagai negara modern. Teori ini
memberikan saran bahwa negara-negara berkembang harus meninggalkan nilai-nilai
tradisionalnya agar dapat keluar dari berbagai permasalahan, seperti
kemiskinan. Teori ini juga menilai ideologi komunisme sebagai ancaman
pembangunan negara Dunia Ketiga. Satu hal yang menonjol dari teori modernisasi
klasik ini adalah, modernisasi lebih menekankan faktor internal sebagai akibat
dari masalah dalam masyarakat itu sendiri. Teori modern baru kemudian
mengkritik seluruh jawaban dari teori modernisasi klasik. Hal ini dikarenakan
teori modernisasi klasik terlalu berorientasi ke Barat, terlalu optimis,
mensahkan dominasi Barat di dunia ketiga, dan menolak tradisi. Teori modern
baru ini berasumsi bahwa tradisi dapat memberikan pengaruh positif terhadap
perkembangan ekonomi. Karena pola pembangunan ini tidak memberi kepuasan, maka
kemudian lahir teori ketergantungan atau dependensi, yang memiliki sisi pandang
dari negara- negara dunia ketiga yang berada dalam posisi tergantung terhadap
negara-negara maju.
Teori dependensi menitikberatkan
pada persoalan keterbelakangan dan pembangunan negara Dunia Ketiga. Teori ini
mewakili suara negara-negara pinggiran untuk menantang hegemoni ekonomi,
politik, budaya, dan intelektual dari negara maju. Teori ini menyatakan bahwa
karena sentuhan modernisasi itulah negara-negara dunia ketiga kemudian
mengalami kemunduran (keterbelakangan). Secara ekstrim, dikatakan bahwa
kemajuan atau kemakmuran dari negara-negara maju pada kenyataannya menyebabkan
keterbelakangan dari negara-negara lainnya. Hal ini dilihat dari kegagalan
program dari Komisi Ekonomi PBB untuk Amerika Latin (KEPBBAL) pada awal 1960-an.
Program ini dimulai tahun 1950-an saat banyak negara Amerika Latin menerapkan
strategi pembangunan yang menitikberatkan pada proses industrialisasi melalui
program Industrialisasi Substitusi Import (ISI). Strategi pembangunan tersebut
diterapkan dengan harapan dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat dan
pemerataan hasil pembangunan. Namun, yang muncul kemudian adalah terjadinya
stagnasi ekonomi yang ditandai dengan adanya masalah pengangguran, inflasi,
devaluasi, penurunan nilai perdagangan, dan lainnya. Kondisi ini menimbulkan
gerakan perlawanan dari rakyat dan tumbangnya pemerintahan di beberapa negara.
Secara filosofis, teori dependensi memiliki kehendak untuk meninjau kembali
pengertian dari pembangunan. Pembangunan tidak tepat untuk diartikan sebagai
sekedar proses industrialisasi, peningkatan output, dan peningkatan
produktivitas. Bagi teori dependensi, pembangunan lebih tepat diartikan sebagai
peningkatan standar hidup bagi setiap penduduk di negara Dunia Ketiga. Dengan
kata lain, pembangunan tidak sekedar pelaksanaan program yang melayani
kepentingan elit dan penduduk perkotaan, tetapi lebih merupakan program yang
dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk pedesaan, para pencari
kerja, dan kelas sosial lainnya yang membutuhkan bantuan.
Teori terakhir adalah teori sistem
dunia. Teori ini memiliki pandangan bahwa dunia merupakan sebuah sistem yang
sangat kuat yang mencakup seluruh negara di dunia, yaitu sistem kapitalisme. Di
dalam teori ini, adanya bentuk hubungan negara dalam sistem dunia yang terbagi
dalam tiga bentuk negara, yaitu negara sentral, negara semi pinggiran, dan
negara pinggiran. Ketiga bentuk negara tersebut terlibat dalam hubungan yang
harmonis secara ekonomis dan kesemuanya memiliki tujuan untuk menuju pada
bentuk negara sentral yang mapan secara ekonomi. Perubahan status negara
pinggiran menuju negara semi pinggiran ditentukan oleh keberhasilan negara
pinggiran dalam melaksanakan salah satu strategi pembangunan, yaitu strategi
menangkap dan memanfaatkan peluang, strategi promosi dengan undangan, dan
strategi berdiri di atas kaki sendiri. Sedangkan upaya negara semi pinggiran
menuju negara sentral bergantung pada kemampuan negara semi pinggiran dalam
melakukan perluasan pasar serta pengenalan teknologi modern. Selain itu, juga
memiliki kemampuan untuk bersaing di pasar internasional melalui perang harga
dan kualitas.
Pembangunan
secara umum diartikan sebagai suatu usaha untuk memajukan, mensejahterakan, dan
meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Pembangunan seringkali diarahkan pada
pertumbuhan di bidang ekonomi atau kemajuan material. Namun pada kenyataannya,
pembangunan di bidang ekonomi saja belum cukup untuk memajukan kualitas hidup
masyarakat, karena malah menimbulkan berbagai permasalahan seperti kemiskinan
akibat kesenjangan atau ketidakmerataan distribusi sumber, kerusakan lingkungan
hidup akibat eksploitasi sumber daya alam, dan lain-lain. Masyarakat harus mampu
mengelola sumber dayanya secara mandiri, sehingga pembangunan di bidang sosial
pun perlu dilaksanakan.
Dari penjelasan masing-masing teori
pembangunan tersebut, teori modernisasi tidak cocok diterapkan di Indonesia.
Hal ini dikarenakan konsep pembangunan masyarakat dengan teori modernisasi ini
kurang mendasar pada masyarakat Indonesia. Modernisasi identik dengan
pertumbuhan ekonomi, dan melupakan budaya yang membangun kehidupan masyarakat.
Masyarakat menerima berbagai perubahan di dalam kehidupannya sebagai akibat
dari modernisasi, seperti gaya hidup, fasilitas-fasilitas modern seperti mall,
diskotik, cafe, dan lain sebagainya. Sementara di tengah-tengah perubahan yang
terjadi, masyarakat belum mampu untuk meninggalkan bentuk-bentuk tradisi
lamanya. Akibatnya, timbul ketimpangan sosial dalam masyarakat tersebut.
Menurut teori modernisasi,
masyarakat Indonesia pada umumnya belum siap untuk melakukan pembangunan secara
menyeluruh. Proses pembangunan terhambat oleh nilai-nilai budaya dan mentalitas
masyarakat Indonesia, seperti nilai budaya yang tidak mementingkan mutu atau
prestasi, tidak mampu meninggalkan otoritas tradisinya, menganggap hidup
selaras dengan alam sehingga timbul konsep tentang nasib, tidak disiplin,
kurang bertanggungjawab, tidak berani menanggung resiko, dan lain-lain. Inilah
sebabnya negara Indonesia sebagai negara dunia ketiga mengalami
keterbelakangan. Di sini terlihat jelas bahwa teori modernisasi ini tidak
memberikan keuntungan bagi masyarakat Indonesia.
Teori selanjutnya adalah teori dependensi
atau ketergantungan. Jika dikaitkan dengan teori ini, pembangunan di Indonesia
bisa saja, yaitu dengan menggantungkan pembiayaannya dari batuan luar negeri,
dinama negara pemberi bantuan tersebut dinamakan negara pusat, sebagai modal
asing. Pemberian modal asing ini merupakan sesuatu yang diharuskan bagi negara
pusat untuk membantu kemajuan Indonesia. Namun, dalam kenyataannya, pemberian
bantuan tersebut tidak sejalan dengan tujuan awal yang telah disepakati oleh
negara-negara pusat. Pemberian modal asing ini dijadikan sebagai jalan bagi
negara-negara maju untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besar dari negara
yang mendapat bantuan, seperti Indonesia. Dampak dari konsekuensi dari
pemberian bantuan, berupa eksploitasi sumberdaya alam dan pengambilan
keuntungan lainnya dari proses pembangunan, menjadikan Indonesia secara
perlahan semakin terpuruk kedalam jurang kemiskinan, dikarenakan utang yang
membebani semakin banyak. Kekayaan alam yang melimpah di tanah air
Indonesia tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal, dikarenakan posisi lemah
sebagai negara yang memiliki hutang pada negara-negara maju. PT. Freeport di
Papua, sebagai contoh, telah megeksploitasi hampir seluruh sumberdaya mineral
berharga yang terdeposit di Papua untuk kepentingan negaranya. Ini contoh
kerugian besar bagi bangsa Indonesia, akibat dependensi terhadap bantuan luar
negeri. Di sini terlihat jelas pula, bahwa teori dependensi ini tidak
menguntungkan Indonesia.
Teori yang terakhir adalah teori
sistem dunia. Dalam teori ini negara di dunia dibagi atas tiga bentuk negara,
yaitu: negara sentral, negara semi pinggiran dan negara pinggiran. Teori ini
mengasumsikan hubungan harmonis secara ekonomi yang terjadi di antara
negara-negara yang terlibat, yang memberikan kesempatan kepada dua kelompok
negara, yaitu semi pinggiran dan pinggiran untuk dapat merubah statusnya
menjadi negara sentral yang mapan secara ekonomi. Dalam kajiannya Wahyu
Ishardino, disampaikan bahwa perubahan status negara pinggiran menuju
semi pinggian ditentukan oleh keberhasilan negara-negara tersebut melaksanakan
strategi menangkap dan memanfaatkan peluang, dan strategi lainnya dalam proses
pembangunannya. Sementara itu, upaya yang harus dilakukan oleh negara semi
pinggiran untuk dapat menuju negara sentral, adalah memperluas pasar dengan
memperkenalkan teknologi modern, dan mampu mempersaingkan produknya dari segi
harga dan kualitas.
Indonesia termasuk dalam kategori
mana? Secara umum, Indonesia masih berada dalam kategori negara pinggiran.
Karena dari segi kegiatan produksi, hampir 90% bahan bakunya bergantung pada
import. Dengan demikian, kemampuan untuk berperang dari segi harga dan kualitas
dengan produk luar negeri masih sangat rendah. Pertumbuhan jumlah dan jenis
industri yang ada di Indonesia tidak sejalan dengan pertumbuhan kesejahteraan
nasional, namun yang terjadi malah sebalilknya. Sektor industri yang tumbuh di
Indonesia didominasi oleh perusahaan asing yang mengoperasikan produksinya di
Indonesia, dikarenakan ketersediaan bahan dasar (raw materials) yang siap
diolah menjadi bahan baku oleh perusahaan mereka sendiri dan rendahnya upah
tenga kerja lokal.
Indonesia belum mampu secara mandiri
mengolah sumberdaya alamnya menjadi produk antara (intermediate products) dan
bahkan produk barang jadi. Konsekuensinya, hampir semua kegiatan produksi masih
bergantung pada supply produk luar negeri. Walaupun demikian, dengan teori
sistem dunia, Indonesia masih punya harapan untuk mendapatkan peluang lebih
baik, yaitu mandiri di sektor bahan baku industri dan tidak hanya bertindak
sebagai pasar bagi bertubi-tubinya produk asing datang ke dalam negeri ini.
Dengan memperkuat kemampuan pengolahan sumberdaya alam yang ada, melaksanakan
regulasi yang kondusif bagi usaha dalam negeri, maka peluang Indonesia dari
yang berkategori negara pinggiran dapat bangkit menjadi negara semi pinggiran
bahkan menjadi negara sentral yang maju dan berdaulat secara ekonomi. Dari ketiga teori yang telah dibahas
diatas, teori sistem dunia merupakan harapan Indonesia untuk memperoleh peluang
mendapatkan posisi yang lebih baik untuk menuju tingkat kesejahteraan yang
lebih baik.
SUMBER KUTIPAN:
Suwarsono, Alvyn Y. So. 2006. Perubahan
Sosial dan Pembangunan. Jakarta: Pustaka LP3ES.
0 Komentar untuk "pembangunan indonesia dalam pandangan teori "