oleh : SAYEDAZNAN
Afghanistan termasuk di antara negara
yang menghadapi serangan luas budaya dikarenakan berbagai krisis politik,
sosial, dan ekonomi tengah mendera negara itu. Negara-negara Barat ingin
menancapkan hegemoni dan politik imperialisnya dengan membidik keyakinan dan
nilai-nilai masyarakat Afghan. Meski tokoh masyarakat, ulama, dan pemikir
telah berkali-kali mengingatkan masalah tersebut kepada para pejabat Kabul,
tapi butuh waktu panjang untuk bisa sampai pada kondisi yang diharapkan. Selama
lebih dari 10 tahun pendudukan pasukan Amerika Serikat dan NATO di
Afghanistan, negara-negara Barat agresif melancarkan serangan budaya
melalui media-media mereka. Serangan budaya tersebut diyakini untuk mengikis
keinginan untuk mendirikan pemerintahan Islam hakiki di Afghanistan. Oleh
karena itu, Barat berupaya untuk mengaburkan ajaran-ajaran agama Islam dan
mengkampanyekan budaya Barat, terutama di kalangan generasi muda dan remaja
Afghan. Media merupakan sebuah instrumen yang bisa digunakan untuk misi-misi
positif dan negatif. Barat tentunya akan menggunakan media untuk
menyebarluaskan nilai-nilai budaya mereka dan mencapai tujuan-tujuan tidak
manusiawi dan tidak adil.
Afghanistan merupakan negara yang
tidak memiliki sejarah panjang di bidang media dan kegiatan pers. Negara itu
baru menyaksikan ledakan aktivitas media dalam satu dekade terakhir, di mana
ratusan media cetak dan elektronik muncul di seluruh penjuru Afghanistan. Oleh
sebab itu, peran media dalam mengarahkan opini publik dan membentuk budaya baru
di masyarakat, tidak bisa diremehkan.
Saat ini, ada hampir 40 jaringan televisi dan puluhan
radio yang melakukan aktivitas di Afghanistan, di mana sebagian dari media itu
menyajikan berbagai program bernuansa Barat dan menyerang budaya dan
nilai-nilai agama masyarakat Afghan. Kebanyakan dari media itu memperoleh
dukungan finansial dari negara-negara Barat dan mereka diberi misi untuk
mempromosikan pandangan dan budaya Barat.
Tindakan amoral dan pornografi termasuk salah satu
indikator serangan budaya Barat terhadap budaya Islam di Afghanistan, yang
disebarkan melalui media. Masalah ini telah menjadi salah satu kekhawatiran
serius masyarakat Afghan dalam kondisi sekarang. Media-media corong pemerintah
Barat menampilkan berbagai tontonan tanpa mengindahkan keyakinan masyarakat
setempat dan program-program yang disiarkan juga sama sekali tidak menghormati
nilai dan ajaran-ajaran Islam. Sebenarnya, upaya ini bertujuan untuk
menghancurkan akar keyakinan dan agama rakyat Afghanistan. Hujjatul Islam
Rezvani Bamyani, Direktur Komisi Budaya Dewan Ulama Syiah Afghanistan, terkait
kampanye budaya Barat di media-media negara itu, mengatakan, "Mengingat
Barat memasuki Afghanistan dengan segala fasilitas, di samping bidang politik
dan sosial, mereka juga ingin mendominasi ranah pemikiran dan budaya. Mereka
telah menemukan sekutu-sekutu yang baik dan ingin melanjutkan proses tidak
manusiawi ini di Afghanistan." Dia menambahkan, "Barat di negara mana
saja mereka singgah, mereka akan menyebarluaskan budaya maksiat dan pornografi
media. Namun, sayangnya beberapa pihak di dalam negeri juga memperdagangkan
semua nilai-nilai lokal dengan harga terendah."
Hujjatul Islam Bamyani menjelaskan bahwa media tentu
saja melakukan hal-hal yang positif, tapi pemerintah Afghanistan bertugas untuk
mencegah penyiaran program-program anti-agama dan menekankan penyebaran
nilai-nilai agama melalui media. Meski masyarakat melek huruf terbilang
sedikit di Afghanistan, namun jumlah koran dan majalah yang tersebar di negara
itu sangat menakjubkan. Di Kabul saja, tersebar lebih dari 300 koran dan
majalah.
Para pakar media di negara itu mengatakan, lebih dari
dua pertiga anggaran majalah dan koran tersebut ditanggung oleh pihak asing dan
media itu juga berkewajiban untuk mendukung kebijakan dan pandangan-pandangan
pemerintah Barat. Beberapa televisi swasta di Afghanistan menyiarkan
program-program yang tidak disiarkan oleh televisi pemerintah. Program-program
tersebut mencakup tayangan perempuan menyanyi dan tontonan semi porno, di mana
tidak ada kecocokan dengan budaya Islam masyarakat setempat.
Televisi-televisi swasta corong Barat
di Afghanistan setiap harinya menyiarkan program-program bernuansa Barat dan
menyerang budaya Islam masyarakat Afghan. Di samping koran dan televisi,
internet juga memiliki kondisi yang sama. Akses terhadap situs-situs porno di
kalangan remaja dan pemuda Afghan terus meningkat. Berdasarkan data yang
dirilis oleh Google pada akhir 2012, Afghanistan menduduki urutan teratas
dalam mencari kata-kata yang tidak layak bila dibanding tahun lalu. Para
pengguna internet di Afghanistan menempati urutan ke-12 di antara 144 negara
dalam mencari kata-kata yang tidak bermoral. Padahal, pemerintah Kabul dalam
beberapa tahun terakhir telah memblokir situs-situs porno untuk mencegah
kerusakan moral. Dalam menjalankan misinya, pemerintah Barat menaruh perhatian
lebih terhadap kaum perempuan untuk mengubah masyarakat dan budaya di
Afghanistan. Aksi kekerasan yang dipraktikkan Taliban terhadap perempuan di
negara itu, seperti larangan sekolah, larangan melakukan segala bentuk kegiatan
sosial, dan paksaan untuk memakai pakaian tertentu bagi perempuan, telah
membuka peluang bagi Amerika Serikat untuk program westernisasi budaya. Di
antara kegiatan itu adalah mendorong perempuan Afghan untuk menistakan adat istiadat
dan nilai-nilai agama, menggelar berbagai konferensi yang menghadirkan
perempuan-perempuan Barat sebagai narasumber, dan membuka paket pelatihan untuk
perempuan Afghan di negara-negara Eropa.
Barat berupaya mengubah gaya hidup perempuan Afghan
dan membuat mereka terasing dari budaya Islam. Perempuan Afghan mulai diarahkan
untuk berkiblat ke gaya hidup Barat yang sarat kemerosotan moral. Barat
kemudian memperkenalkan mereka sebagai perempuan teladan dan layak jadi panutan
bagi masyarakat modern.
Kendati mendapat serangan luas budaya
Barat, masyarakat Afghan masih memberi perhatian khusus terhadap nilai-nilai
ideologis dan budaya nenek moyang. Sebagian besar mereka belum terjebak ke
dalam propaganda media Barat. Mereka masih berpaling dari suguhan-suguhan media
Barat dan sebagai gantinya, mereka menyambut baik pemutaran film dan
serial-serial Iran. Pakar masalah budaya Afghanistan, Ali Bunyadi mengatakan,
"Serial-serial Iran, terutama serial Islami dan sejarah menyedot banyak
pemirsa di tengah masyarakat Afghan. Kekayaan nilai seni dan nilai-nilai agama
merupakan ciri khas serial-serial Iran, di mana sangat menarik bagi pemirsa
Afghan."
Menurut pakar budaya Afghanistan ini, film-film
kolosal produksi Iran menampilkan budaya dan peradaban agung Islam. Bunyadi
menambahkan, "Pada dasarnya, film-film tersebut merupakan penutur ulang
dari identitas, budaya, dan peradaban Islam, dan menambah kearifan
pemirsa." Berdasarkan sebuah evaluasi, serial Iran, Prophet Yusuf, menjadi
tontotan favorit masyarakat Afghan dan serial-serial lain Iran juga menyedot
banyak pemirsa di negara itu. (IRIB Indonesia) Politik dan Pemerintahan Negara Afganistan
Sebelum mengenal sistem politik dari negara Afganistan, alangkah baiknya kita
mengenal negara nya terlebih dahulu. Afganistan adalah negara yang berada di
Asia Tengah, namun karena kedekatannya dengan plato Iran, kadang-kadang negara
ini disebut sebagai bagian dari negara timur tengah. Negara afganistan
merupakan salah satu negara termiskin didunia. Dari data worldfactbook pendapatan
perkapita negara ini pada tahun 2009 adalah US$ 1000. Negara ini merdeka pada
tanggal 19 agustus 1919 dibawah control Inggris untuk urusan luar negeri
Afganistan. Penduduk negara ini beragama mayoritas muslim dengan presentase 99%
muslim dan 1% agama lain seperti kristiani, budha, dan lain-lain. Dengan
melihat keadaan penduduk yang mayoritas muslim tersebut, maka tidak dipungkiri
bahwa negara ini berbentuk Republik Islam, dengan nama konvensionalnya Islamic
Republik of Afghanistan.
Sistem politik yang legal di Afganistan adalah berdasarkan campuran sipil dan
syariah islam. Tipe pemerintahan negara ini adalah republic islam. Pemimpin
negara ini sama seperti pemerintahan di negara demokrasi presidential, yakni,
presiden sebagai kepala negara juga merangkap sebagai kepala pemerintahan. Cara
pemilihan kepala pemerintahan yaitu dengan pemberian suara (voting) secara
langsung, yang mana jika tidak ada kandidat yang mencapai 50% suara, maka
pemilihan diulang sekali lagi dengan antara dua kandidat yang mempunyai suara
terbanyak. Berdasarkan data worldfactbook, pada tanggal 20 agustus
2009 pemilu menghasilkan suara terbersar untuk Hamid Karzai sebanyak 49,67% suara.
Sistem demokrasi Afganistan diatas tentunya mempunyai pengaruh dari barat,
terutama Amerika Serikat. Ini dikarenakan banyaknya campur tangan Amerika dalam
setiap konflik yang terjadi di Afganistan, terutama konflik dengan Taliban.
Keterlibatan wanita dalam politik dan pemerintahan di negara ini juga cukup besar.
Hal ini bisa dilihat dari pernyataan salah seorang ahli politik dan juga akan
mencalonkan diri sebagai kandidat parlemen baru-baru ini setelah kembali dari
studinya di Kanada dan Asia Tengah, Janan Mossazai, yaitu, dari 33 kursi di Kabul maka 9 orang diantaranya
harus wanita.
Selain
itu, perpolitikan kaum wanita di Afganistan juga tampak pada Farkhunda Naderi yang merupakan
anak dari pemimpin spiritual sekte Ismail Afganistan, ia menyatakan bahwa
hak-hak wanita belumlah cukup sampai mereka juga mempunyai hak-hak politik,
namun konstitusi para wanita tetap berlandaskan hukum islam, sehingga wanita
juga mengetahui hak-hak islami mereka. Dalam syariat islam yang juga dipakai
dalam legal sistem nya negara Afganistan ini, memang tidak melarang kaum wanita
hadir dalam dunia perpolitikan. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan Said Aqiel Siradj yang merupakan
ahli politik islam Indonesia dan pernah menuntut ilmu di Arab, dalam tulisannya
di Islam Kebangsaan (1999:8-9), bahwa realitas kepemimpinan
istri Rasulullah saw, Aisyah, pada masa awal perkembangan islam pernah menjadi
panglima perang dalam perang jamal. Selain itu, kepemimpinan ratu Balqis dimasa
nabi Sulaiman as juga diabadikan dalam Al-Quran yang dikenal dengan “baldatun
thayyibatun wa rabbun ghafur” (negeri yang adil, makmur, aman, dan
sentosa).
Partai di Afganistan ini sangat banyak, dan sebagian besar tentunya merupakan
partai islam. Selain itu di Afganistan juga terdapat kelompok penekan dan
penguasa yang diantaranya adalah kelompok religious, pemimpin-pemimpin suku,
dan kelompok Taliban.
keamanan tetap menjadi fokus utama di Afganistan. Rekomendasi pertama pada
laporan pemerintah Maret 2009 menyoroti pentingnya memadukan keamanan penduduk
dengan membentuk pemerintahan lokal yang efektif, dan pembangunan ekonomi.
Pemikiran ini didasarkan pada ide bahwa sebuah pemerintah menaikkan
legitimasinya dan kecil kemungkinan menghadapi pemberontakan jika ia bisa
memberikan keamanan pada penduduknya secara lebih baik. Tapi pendekatan ini
mengandaikan bahwa sebagian besar penduduk tak memegang senjata, yang tidak
terjadi di Afghanistan.
Kemampuan pertahanan diri di Afghanistan telah secara historis diperlukan untuk
melindungi diri dari berbagai macam ancaman. Setiap kampung punya sebuah alat
tak formal untuk membela diri. Fakta bahwa mereka independen dari pemerintah
berbuntut pada kekhawatiran bahwa mereka boleh jadi memihak para pemberontak.
Tambah pula, agar Amerika Serikat mendapat dukungan dari pemimpin setiap daerah
akan membutuhkan sesuatu yang serupa dengan suap dalam pandangan penguasa
Barat. Di Afghanistan, apa yang dianggap korupsi di tempat lain diperlakukan
sebagai pengaturan saling menguntungkan. Beroperasi tanpa patronase tak
terbayangkan dan bahkan bisa-bisa menyinggung semua yang terlibat.
1 Komentar untuk "negara afghanistan, idiologi dan perang yang berkepanjangan"
sangat membantu untuk bahan kuliah saya